Selasa, 21 Desember 2021

 

PUNCAK IMAN

Kisahnya diriwayatkan Al Mubarrid dari Abu Kamil, dari Ishak bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr Al-Nakha’i.

Seorang pemuda kufa yang dikenal ahli ibadah suatu saat jatuh cintadan tergila-gila pada seorang gadis. Cintanya berbalas. Gadis itu sama gilanya. Bahkan ketika lamaran sang pemuda ditolak karena sang gadis telah dijodohkan dengan saudara sepupunya, mereka tetap nekat, ternyata. Gadis itu bahkan menggoda kekasihnya, “Aku datang padamu, atau kuatur cara supaya kamu bisa menyelinap ke rumahku”. itu jelas jalan syahwat.

“ Tidak! Aku menolak kedua pilihan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam!” itu jawaban sang pemuda yang menghentak sang gadis. Pemuda itu memenangkan iman atas syahwatnya dengan kekuatan cinta. “Jadi dia masih takut pada Allah.?” Gumam sang gadis. Seketika ia tersadar, dan dunia tiba-tiba jadi kerdil di matanya. Ia pun bertaubat dan kemudian mewakafkan dirinya untuk ibadah. Tapi cinta pada sang pemuda tidak mati. Cintanya berubah jadi rindu yang mengelana dalam jiwa dan do’a-do’anya. Tubuhnya luluh lantak didera rindu. Ia mati, akhirnya.

Sang pemuda terhenyak. Itu mimpi buruk. Gadisnya telah pergi membawa semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu dan do’a-do’anya. Sampai suatu saat ia tertidur diatas kuburan sang gadisnya. Tiba-tiba sang gadis hadir dalam tidurnya. Cantik. Sangat cantik. “Apa kabar.?” Bagaimana keadaanmu setelah kepergianku,” tanya sang gadis. “Doakan aku. Jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu,” tanya sang pemuda lagi. “Aku juga tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdo’a agar Allah menyatukan kita di surga. Teruslah beribadah, sebentar lagi kamu akan menyusulku,” jawab sang gadis. Hanya tujuh malam setelah mimpi itu, sang pemuda pun menemui ajalnya.

Atas nama cinta ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri, memengangkan iman atas syahwatnya sendiri. Atas nama cinta itulah Allah mempertemukan mereka. Cinta selalu bekerja dengan cara itu.

😭😭😭

 

 

 

Serial Cinta|8

ANIS MATTA

 

CERMIN KEBENARAN

Cinta adalah makna kebenanaran dalam penciptaan. Itu sebabnya, hati yang dipenuhi dengan cinta lebih mudah dan cepat menanglap kebenaran. Cints tidak tumbuh dalam hsti ysng dipenuhi keangkuhan, angkara murka dan dendam. Cinta melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Cinta adalah cahaya yang memberikan kekuatan penglihatan pada mata hati kita. Begitulah cinta akhirnya membimbing tangan Abu Bakar, Al Najasyi, atau Cat Steven kepada islam. Begitu juga akhirnya keangkuhan menyesatkan Abu Jahal  Heraklius atau Sadam Husain. Cinta dalam jiwa, kata Iqbal, serupa penglihatan pada mata.

Pengetahuan bahkan bisa menyesatkan kalau ia tidak dibimbing oleh kelembutan tangan cinta. Itu kebutaan, kata Enstein. Sebab ia tidak melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Itu juga yang menjelaskan mengapa ilmu pengatahuan modern justru menjauhkan Barat dari Tuhan. Disana cinta tidak membimbing pengetahuan. Maka dengan penuh kayakinan Iqbal kemudian berkata dalam Javid Namah:

Pengetahuan bersemayam dalam pikiran,

Tempat cinta ialah hati yang sadar-jaga,

Selama pengetahuan yang tidak sedikit juga mengandung cinta,

Adalah itu hanya permainan sulap si Samiri;

Pengetahuan tanpa Ruh Kudus hanya penyihiran




serial cinta|5

Anis Matta

Serial Cinta


 

  PUNCAK IMAN Kisahnya diriwayatkan Al Mubarrid dari Abu Kamil, dari Ishak bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr Al-Nakha’i. Seorang pemuda kuf...